UPA BK UHO Bekali Mahasiswa Konseling Dasar dan Deteksi Dini Gangguan Psikologis

SULTRAMERDEKA.COM – Universitas Halu Oleo melalui Unit Penunjang Akademik (UPA) Bimbingan dan Konseling (BK) terus memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa. Salah satu langkah yang dilakukan yakni membekali mahasiswa dengan keterampilan konseling dasar dan kemampuan deteksi dini gangguan psikologis melalui kegiatan Pelatihan Konselor Sebaya yang digelar pada Rabu (20/5/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan UHO sebagai calon konselor sebaya yang nantinya diharapkan mampu menjadi ruang dukungan awal bagi rekan-rekan mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis, sosial, maupun akademik.

Dalam pelatihan itu, psikolog Astri Yunita memberikan materi mengenai pengenalan gejala stres dan kecemasan yang kerap dialami mahasiswa. Peserta juga diperkenalkan pada teknik observasi sederhana untuk membaca perubahan emosional dan perilaku seseorang sebagai bagian dari proses deteksi dini kondisi psikologis.

Tidak hanya menerima materi teori, peserta turut menjalani praktik komunikasi empatik dan simulasi pendampingan dasar. Melalui roleplay dan diskusi kasus, mahasiswa dilatih membangun kemampuan mendengar secara aktif, memberikan respons yang tidak menghakimi, hingga memahami batas pendampingan sebelum merujuk mahasiswa kepada tenaga profesional.

Sebagai penunjang proses identifikasi awal kondisi psikologis mahasiswa, peserta pelatihan dibekali penggunaan instrumen skrining Perceived Stress Scale (PSS-10). Instrumen tersebut digunakan untuk membantu mengenali tingkat stres yang dialami mahasiswa dalam satu bulan terakhir. Selain itu, peserta juga mempelajari penggunaan lembar observasi awal untuk mengidentifikasi tanda-tanda emosional maupun perilaku secara lebih terstruktur.

Kepala UPA Bimbingan dan Konseling UHO, Eva Herik, S.Psi., M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan teman sebayanya. Karena itu, kehadiran konselor sebaya dinilai penting untuk mempercepat proses dukungan awal terhadap mahasiswa yang mulai mengalami masalah psikologis.

Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang suportif dan lebih peduli terhadap kesehatan mental mahasiswa. Pendampingan sebaya juga diharapkan mampu membantu mahasiswa merasa lebih nyaman untuk bercerita dan mencari bantuan sejak dini.

Selain fokus pada isu kesehatan mental, pelatihan turut menanamkan pemahaman mengenai pentingnya pendampingan yang inklusif bagi mahasiswa disabilitas. Peserta diarahkan untuk membangun sikap empatik, menghargai keberagaman, serta memberikan dukungan sosial yang setara tanpa diskriminasi.

Program konselor sebaya UHO juga mendapat apresiasi dari Kepala Biro Akademik UHO, Alimin Dima, yang menilai kegiatan tersebut sebagai langkah positif dalam membangun lingkungan kampus yang sehat secara psikologis dan ramah bagi seluruh mahasiswa.

Sebagai tindak lanjut program, mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan nantinya akan memperoleh Surat Keputusan (SK) resmi sebagai Konselor Sebaya UHO. Dengan status tersebut, mereka dapat terlibat secara resmi dalam kegiatan pendampingan mahasiswa di lingkungan kampus.