UPA BK Universitas Halu Oleo Buka Konseling Gratis untuk Civitas Akademika UHO
SULTRAMERDEKA.COM – Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA BK) Universitas Halu Oleo di bawah kepemimpinan Eva Herik, S.Psi., M.Psi., Psikolog, membuka program konseling gratis bagi seluruh civitas akademika sebagai bentuk komitmen dalam mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis.
Program ini dirancang berlangsung dalam empat kali kegiatan sepanjang tahun 2026. Pelaksanaan tahap pertama telah dimulai pada 3 Maret 2026 hingga akhir Maret 2026, bertempat di Ruang Konseling UPA Bimbingan dan Konseling Universitas Halu Oleo yang berlokasi di Gedung Kuning.
Selanjutnya, kegiatan ini akan dilanjutkan pada tahap kedua pada April 2026, tahap ketiga pada Mei 2026, dan tahap keempat pada Juni 2026.
Pada pelaksanaan tahap pertama, kegiatan konseling melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan tanpa membedakan latar belakang akademik.
“Antusiasme mahasiswa terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 38 orang,” terang Eva Herik dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (26/3/2026) sore.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 mahasiswa berhasil mengikuti proses konseling hingga selesai. Sementara itu, 11 mahasiswa lainnya tidak dapat melanjutkan proses konseling karena berbagai alasan, seperti mengundurkan diri atau tidak dapat dikonfirmasi kembali.
Kegiatan konseling ini didampingi oleh lima konselor profesional yang berasal dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) Wilayah Sulawesi Tenggara serta Lembaga Layanan Psikologi Psikomorfosa cabang Kendari.
Kehadiran para profesional ini memberikan ruang pendampingan psikologis yang aman dan terpercaya bagi civitas akademika yang membutuhkan dukungan.
Berdasarkan hasil konseling, ditemukan bahwa mahasiswa menghadapi berbagai dinamika permasalahan psikologis yang kompleks. Sebagian mahasiswa membawa pengalaman masa lalu berupa trauma akibat kekerasan fisik maupun verbal dalam pola pengasuhan keluarga.
Trauma tersebut berdampak pada cara mereka memandang diri, mengelola emosi, serta berinteraksi dengan lingkungan sosial. Selain itu, pengalaman perundungan atau bullying juga menjadi sumber kecemasan yang memicu rasa rendah diri serta ketidakpercayaan terhadap lingkungan sosial.
Di sisi akademik, stres perkuliahan menjadi salah satu isu yang dominan, terutama terkait tuntutan akademik, pengerjaan tugas akhir, serta tekanan untuk segera menyelesaikan studi.
Kondisi ini seringkali diperburuk oleh permasalahan interpersonal, baik dengan teman sebaya maupun pasangan, yang berdampak pada konsentrasi belajar dan stabilitas emosi mahasiswa.
Selain itu, sebagian mahasiswa juga mengungkapkan kebingungan dalam menentukan arah karier di masa depan. Ketidakpastian tersebut memunculkan kecemasan, konflik internal, serta perasaan kehilangan arah.
Beberapa mahasiswa juga mengalami kesulitan dalam regulasi emosi, yang terlihat dari kecenderungan mudah tersinggung, reaksi emosional yang meledak-ledak, hingga kondisi emosi yang tidak stabil dalam menghadapi tekanan.
Permasalahan keluarga turut menjadi faktor yang signifikan dalam memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Konflik keluarga yang tidak kondusif dapat berdampak pada menurunnya motivasi belajar, konsentrasi akademik, serta munculnya rasa tidak percaya diri dan overthinking.
Selain itu, beberapa mahasiswa juga menghadapi masalah seperti prokrastinasi akademik, kecanduan tayangan pornografi, serta konflik hubungan interpersonal dengan pasangan maupun sahabat.
Menariknya, tidak semua mahasiswa yang datang membawa masalah baru. Beberapa klien merupakan mahasiswa yang sebelumnya pernah mengikuti konseling dan datang kembali dengan kabar positif mengenai perubahan yang mereka alami setelah menjalani proses konseling sebelumnya.
Ini menunjukkan layanan konseling yang disediakan UPA BK memberikan manfaat nyata dan menjadi sarana evaluasi positif terhadap keberlanjutan program pendampingan psikologis di lingkungan kampus.
Hasil kegiatan konseling tahap pertama menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki dinamika permasalahan yang beragam, mulai dari trauma masa lalu, tekanan akademik, konflik interpersonal, hingga proses pencarian jati diri.(sm-01)





