Perang Multifront AS-Israel vs Iran dan Kerentanan Global

Penulis: Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Universitas Khairun)

Giorgio Cafiero, CEO Gulf State Analytics AS, dalam tulisannya “The Multi-Front US-Iran War and Its Worldwide Implications” (TRENDS Research & Advisory, 9 Maret 2026) mengungkapkan bagaimana operasi militer AS-Israel yang diluncurkan pada 28 Februari lalu telah dengan cepat bertransformasi menjadi konflik regional yang meluas. Operasi Epic Fury yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei beserta puluhan pejabat senior keamanan itu memicu respons berantai yang menyentuh hampir seluruh kawasan Teluk.

Cafiero mencatat bahwa serangan balasan Iran tidak hanya menyasar Israel, tetapi juga aset militer Amerika, Inggris, dan Prancis, serta infrastruktur sipil dan energi di Bahrain, Siprus, Irak, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Fasilitas penyulingan minyak Ras Tanura milik Arab Saudi rusak akibat serangan drone, sementara QatarEnergy terpaksa menghentikan produksi LNG setelah fasilitasnya di Mesaieed (Mesaieed Industrial City) dan Ras Laffan (Ras Laffan Industrial City) menjadi sasaran. Satu yang paling dramatis, Iran menutup Selat Hormuz dan menyerang lima kapal yang melintas, membuat sedikitnya 150 kapal terdampar.

Dampak ekonominya langsung terasa. Harga minyak melonjak tajam di atas US$100 per barel, harga bensin di AS naik 10-11 sen per galon hanya dalam 24 jam, dan harga diesel di Eropa melonjak 27 persen. Cafiero memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, inflasi global akan terdorong 0,6-0,7 poin persentase lebih tinggi. OPEC+ telah menambah produksi, namun akses jalur ekspor menjadi lebih krusial daripada sekadar target produksi.

Fenomena ini menunjukkan betapa rapuhnya tatanan global yang selama ini kita anggap stabil. “Cepatnya eskalasi permusuhan pasca diluncurkannya Operasi Epic Fury menunjukkan betapa rapuhnya keamanan kawasan Timur Tengah dan betapa terkaitnya pasar energi global,” kata Giorgio Cafiero.

Sebuah konflik di kawasan Teluk ternyata mampu mengganggu pasokan energi dunia, memicu inflasi, dan menekan ekonomi negara-negara yang jauh dari medan perang. Indonesia sebagai pengimpor minyak bersih pasti akan merasakan dampaknya melalui membengkaknya subsidi energi dan tekanan pada anggaran negara.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa Iran secara eksplisit mulai menargetkan infrastruktur energi negara-negara Teluk dengan kalkulasi bahwa para pemimpin GCC (Dewan Kerjasama Teluk), enam negara Arab di kawasan Teluk Persia, yaitu Arab Saudi
Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman akan menggunakan pengaruh mereka di Washington untuk mendesak gencatan senjata.

Menurut saya, sikap Iran ini adalah strategi perang asimetris yang cerdas sekaligus berbahaya. Sebab, akan menguras ‘politik kesabaran’ negara-negara Teluk yang sebelumnya telah jadi korban akibat serangan Iran ke fasilitas militer AS di negara mereka. Sedikit banyaknya, walau Iran berfokus ke ‘kepentingan AS’, tapi negara GCC tersebut juga terdampak. Dengan menyandera ekonomi global, kelihatannya Iran berharap tekanan internasional akan memaksa AS menghentikan operasi militernya. Itu yang terbaca.

Strategi ini jika kita perhatikan lagi, kelihatannya mengandung risiko besar bagi Iran sendiri. Politik penutupan Selat Hormuz berarti memotong jalur ekspor Iran sendiri. Ekonomi Iran yang sudah sekarat, terutama sejak blokade AS bertahun-tahun, akan semakin tercekik. Pertanyaannya, apakah Teheran memiliki daya tahan yang cukup untuk memenangkan perang ini jika ia juga membuka ‘front permusuhan’ dengan negara-negara Teluk? Padahal, dalam perang, memperbanyak kawan adalah penting untuk menang.

Dari perspektif geopolitik, konflik ini nampaknya telah mendorong realignment (pergeseran konfigurasi) di kawasan. Negara-negara Teluk yang selama ini bersandar pada payung keamanan AS kini melihat infrastruktur vital mereka hancur meski berada di bawah “perlindungan” Amerika. Hal ini akan memicu pertanyaan ulang tentang reliabilitas atau tingkat keandalan dan kepercayaan terhadap AS sebagai mitra strategis wabilkhusus dalam keamanan kawasan. Sementara itu, Tiongkok sebagai pembeli utama minyak GCC dan Iran pasti akan terpengaruh, baik dari sisi pasokan energi maupun stabilitas investasinya di kawasan.

Bagi dunia, pelajaran yang bisa dipetik dari fakta itu adalah bahwa keamanan energi global tidak bisa dijamin hanya oleh kekuatan militer. Kita butuh arsitektur diplomasi yang mampu meredam konflik sebelum meluas. Sayangnya, dengan Trump yang berbicara tentang operasi empat-lima minggu dan Iran yang menolak diplomasi, jalan menuju perdamaian masih terhalang retorika perang. Belum kelihatan ‘hilal perdamaian’ tersebut. Sementara itu, harga minyak terus merangkak naik, dan beban ekonomi semakin berat dipikul masyarakat dunia.