Prancis, Nuklir, dan Harapan yang Tersisa

Oleh: Yanuardi Syukur (Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate)

Dua hari setelah Amerika dan Israel melancarkan serangan ke Iran, Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat pengumuman mengejutkan. Pada 2 Maret 2026, ia menyatakan bahwa Prancis akan memperkuat arsenal nuklirnya dan mempererat kerja sama dengan negara-negara Eropa lainnya. Ia menyebut kebijakan ini sebagai ‘forward deterrence’, yaitu ‘pencegahan ke depan.’ Di tengah perang yang berkecamuk, Macron seolah berkata bahwa Eropa harus siap melindungi dirinya sendiri.

Memperkuat Arsenal Nuklir

Prancis saat ini memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir dan menjadikannya sebagai kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah AS, Rusia, dan China. Namun Macron tidak puas hanya dengan angka. Ia mengumumkan bahwa Prancis akan berhenti mengumumkan jumlah persis hulu ledaknya—sebuah langkah untuk menciptakan ambiguitas strategis, seperti yang dilakukan negara-negara nuklir besar lainnya.

Macron juga menegaskan bahwa ‘kepentingan vital’ Prancis tidak terbatas pada wilayah nasionalnya. “Sejak tahun enam puluhan, Prancis tidak pernah memikirkan pencegahan nuklir dalam konteks yang eksklusif secara nasional,” kata analis geopolitik Gregoire Roos kepada Al Jazeera (17/3/2026). “Selalu ada dimensi Eropa yang kuat.”

Ini berarti bahwa dalam situasi tertentu, payung nuklir Prancis bisa melindungi negara-negara Eropa lain. Macron bahkan membuka kemungkinan untuk menempatkan jet tempur berkemampuan nuklir di wilayah negara-negara sekutu seperti Jerman, Belanda, atau Polandia. Sebuah langkah yang sebelumnya hampir tidak terbayangkan.

Sinyal Ketidakpercayaan pada Amerika

Di balik pengumuman tersebut, ada pesan yang tak terucapkan, yakni Eropa tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada payung nuklir Amerika. Selama puluhan tahun, NATO dan doktrin nuklir AS menjadi jaminan keamanan Eropa. Namun dengan kepemimpinan Trump yang tidak menentu, keraguan mulai tumbuh.

Laure Foucher, peneliti di Foundation for Strategic Research (FRS), mencatat bahwa Prancis tetap konsisten pada pendekatan diplomatik terhadap masalah nuklir Iran. Prancis menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA 2015, dan menyesali keputusan Trump keluar dari kesepakatan itu pada 2018. Namun di saat yang sama, Prancis juga mempersiapkan diri untuk skenario terburuk.

Macron sendiri dengan tegas mengutuk serangan AS-Israel ke Iran, menyebutnya ilegal dan melanggar hukum internasional. Namun ironisnya, serangan itulah yang justru memacu Prancis untuk memperkuat senjata nuklirnya. Perang Iran menjadi alasan bagi Eropa untuk bangkit dari ‘tidur panjang’ keamanannya.

Antara Ambisi dan Keterbatasan

Namun ambisi Macron menghadapi tantangan besar tentu saja. Untuk memperkuat kapasitas nuklir, Prancis membutuhkan tambahan anggaran sekitar 100 miliar euro per tahun atau sekitar $115 miliar. Untuk itu, Prancis haruslah ‘mengurangi belanja di sektor non-prioritas’ dan tidak berutang lebih banyak. Belanja proporsinal dan tidak berutang banyak.

Di dalam negeri, posisi Macron kelihatannya lemah. Masa jabatannya akan berakhir dalam waktu sekitar setahun, dengan pemilu dijadwalkan pada April 2027. Dia punya sisa satu tahun untuk benar-benar memperkuat warisannya sebagai ‘seseorang yang membangunkan Eropa setelah puluhan tahun berjalan dalam tidur.’

Di tengah perang Iran yang terus meluas, Macron kelihatannya ingin memastikan bahwa Eropa tidak lagi hanya menjadi penonton dalam urusan keamanannya sendiri.

Kata Macron:

“We are in another strategic universe. The next half century … will be an age of nuclear weapons.”

“Kita hidup di era percepatan geopolitik. Setengah abad ke depan akan menjadi era senjata nuklir.”

Dalam ketegangan antara optimisme perdamaian dan ancaman perang nuklir, kekhawatiran terhadap kelangsungan peradaban manusia semakin menguat. Umat manusia kini hidup di bawah ancaman pemusnahan yang diciptakan oleh teknologinya sendiri.

Agar prediksi Macron tentang ‘era senjata nuklir’ tidak menjadi kenyataan yang membawa bencana global, diperlukan upaya kolektif seluruh bangsa di dunia. Hanya melalui kesadaran bersama dan kerja sama internasional yang sungguh-sungguh, manusia dapat mencegah senjata pemusnah massal itu benar-benar digunakan untuk menghancurkan peradabannya sendiri.