Poros Perlawanan Pasca Khamenei
Penulis: Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Universitas Khairun)
Kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 telah mengguncang fondasi “Poros Perlawanan” (axis of resistance) yang dibangunnya selama hampir empat dekade.
Dari perspektif antropologi, jaringan transnasional ini tidak cukup dipahami sebagai aliansi militer-politik, akan tetapi ini sebuah sistem makna yang diikat oleh simbol-simbol keagamaan, ritual kesyahidan, dan narasi perlawanan terhadap hegemoni Barat. Ketika simpul utama jaringan itu putus, bagaimana respons para pengikutnya yang tersebar dari Lebanon hingga Yaman?
Respons pertama dan paling vokal datang dari Hizbullah Lebanon, proksi terkuat Iran di kawasan. Jauh sebelum serangan terjadi, pada Januari 2026, Pemimpin Hizbullah Sheikh Naim Kassem telah menyatakan bahwa pasukannya akan membalas jika Amerika dan Israel menargetkan Khamenei. Janji itu kini berada di ujian paling berat; apa bentuk retaliasinya dan sejauh mana efektif untuk melawan AS-Israel.
Dalam tradisi antropologi, kita mengenal konsep “communitas” yang dikembangkan Victor Turner, yakni sebuah ikatan komunal yang terbentuk melalui pengalaman liminal (‘fase peralihan’ seperti ritual), kebersamaan dan solidaritas mendalam secara kolektif yang melampaui struktur sosial sehari-hari. Budaya tersebut tersimpang sangat kuat dalam diri para pejuang tersebut.
Para pejuang Hizbullah misalnya telah lama menjalani ritual-ritual yang sama seperti ziarah ke makam para syuhada, perayaan Asyura yang dramatis, dan sumpah setia kepada “Wali Faqih” di Teheran. Ketika simbol itu runtuh, mereka mengalami apa yang oleh antropolog disebut sebagai “krisis representasi”, situasi dimana suatu kelompok kehilangan orientasi simbolik yang selama ini memberi makna pada perjuangan mereka. Tapi kehilangan simbolik sesungguhnya dapat digantikan dengan simbol representasi yang baru, selama anggota komunitas loyal pada ideologi revolusi.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merespons dengan retorika yang menggelora. Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut kematian Khamenei sebagai bentuk kesyahidan di tangan “teroris paling keji” dan berjanji bahwa “tangan balas dendam bangsa Iran” tidak akan membiarkan para pelaku lolos begitu saja.
Di balik retorika heroik itu, terdapat satu pertanyaan penting, yaitu bagaimana mempertahankan loyalitas jaringan ketika rantai patronase spiritual terputus? Dalam struktur patronase tradisional Timur Tengah, loyalitas tidak hanya dibangun atas dasar ideologi, tetapi juga atas jaringan kekerabatan, klientelisme ekonomi, dan karisma personal. Khamenei mewarisi karisma Khomeini melalui relasi guru-murid yang sakral. Para pemimpin proksi tidak memiliki warisan serupa.
Menariknya, respons di kalangan elite keagamaan tidak sepenuhnya monolitik. Sebagai negara yang terlibat dalam perang selama 40 tahun, Iran pastinya telah menyiapkan kaderisasi kepemimpinan dengan beberapa kandidat ulama senior, namun membutuhkan ‘jam terbang’ yang luas dalam bidang keamanan nasional dan dukungan publik yang luas.
Situasi ini menciptakan potensi pergeseran loyalitas di kalangan proksi. Di Irak, misalnya, sebagian kelompok milisi mulai merapat ke otoritas marjaiyah di Najaf, pusat keagamaan Syiah yang selama ini bersaing dengan velayat-e faqih ala Iran. Ini adalah fenomena “pergeseran loyalitas” yang dapat kita sebut sebagai “religious switching”, yaitu perpindahan orientasi keagamaan ketika institusi pusat kehilangan legitimasi.
Bagaimana ‘nasib’ poros perlawanan pasca Khamenei kelihatannya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana para pemimpin lokal dari masing-masing poros mampu melakukan “penerjemahan” atas warisan simbolik Khamenei ke dalam konteks lokal mereka. Di sinilah konsep “glokalisasi” dalam antropologi menjadi relevan, yaitu bagaimana ideologi global harus diterjemahkan ke dalam idiom-idiom lokal yang praktis dan relevan agar tetap bermakna bagi pengikutnya.
Hizbullah bisa jadi akan menekankan aspek perlawanan terhadap Israel sebagai identitas utama yang tidak tergantung pada Teheran. Milisi Irak mungkin akan kembali ke akar nasionalisme Arab mereka. Houthi mungkin akan memperkuat narasi kezaliman global yang tidak hanya diwakili oleh Amerika, tetapi juga oleh negara-negara Teluk. Apapun bentuknya, satu hal yang pasti adalah bahwa poros perlawanan tidak akan sama lagi.
Jika konsolidasi jaringan tidak terjadi, maka ada kemungkinan terjadi shifting dari jaringan yang sebelumnya terpusat yang berubah menjadi galaksi-galaksi, yakni ‘masing-masing bintang bersinar sendiri,’ dengan perlawanan yang sangat lokal, dan tidak lagi mengorbit pada ‘satu matahari’ yang sama. Bentuknya kita akan lihat pada respons atas dinamika geopolitik yang terjadi.





