Sri Lanka, Korban Jauh Perang Iran
Oleh: Yanuardi Syukur (Pengajar Diplomasi Kebudayaan di Universitas Khairun, Ternate)
Perang Iran telah mencapai pantai Sri Lanka dengan cara yang tak terduga. Bukan dalam bentuk rudal atau tentara, melainkan kelangkaan gas dan bahan bakar yang melumpuhkan kehidupan sehari-hari. Seperti ditulis Hannah Ellis-Petersen (Guardian, 16/3/2026), Sri Lanka terpaksa memberlakukan empat hari kerja dalam sepekan akibat blokade Selat Hormuz.
Trauma Energi
Sri Lanka adalah negara paling rentan di Asia Selatan. Ketergantungannya pada impor energi dari Timur Tengah membuatnya terpukul paling keras. Pemerintah terpaksa memberlakukan pembatasan bahan bakar, dengan setiap kendaraan hanya boleh membeli 15 liter bensin atau solar per pekan.
Institusi negara—termasuk sekolah dan universitas—kini hanya beroperasi empat hari dalam sepekan. Komisaris Jenderal Layanan Esensial Prabath Chandrakeerthi bahkan meminta sektor swasta untuk menjadikan Rabu sebagai hari libur demi menghemat energi yang menipis.
Pemandangan ini mengingatkan pada krisis ekonomi 2022 yang nyaris meruntuhkan pemerintahan. Presiden Anura Kumara Dissanayake dalam rapat darurat memperingatkan, “Kita harus bersiap untuk skenario terburuk.” Trauma kolektif bangsa ini kembali terangkat.
Perang di Pantai Tenang
Ram Manikkalingam dalam tulisannya di South China Morning Post (15/3/2026) menulis pengalaman surreal ketika perang tiba-tiba hadir di Galle. Kota yang selama ini ia kaitkan dengan liburan dan festival sastra itu kini menjadi saksi bisu kedatangan korban perang.
Pada 5 Maret, kapal perang Iran IRIS Dena tenggelam setelah diserang kapal selam di lepas pantai Sri Lanka. Awak kapal yang terluka dievakuasi dan dirawat di Rumah Sakit Nasional Galle. “Ada tempat-tempat di dunia di mana Anda mengharapkan perang masuk. Lalu ada tempat-tempat di mana kedatangannya terasa surealis,” tulis Manikkalingam.
Kontras yang mengerikan dari negara tersebut adalah bahwa negara yang seharusnya damai di tepian pantai, dengan kafe dan galeri seni, kini harus berhadapan dengan realitas perang yang datang dari ribuan kilometer jauhnya.
Diplomasi Pilih Kasih
India menunjukkan bahwa koneksi diplomatik bisa membuat perbedaan besar. Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar mengungkapkan bahwa dua kapal tanker India berhasil melewati Selat Hormuz setelah negosiasi langsung dengan Iran. “Pembicaraan saya membuahkan hasil,” katanya (Guardian, 16/3/2026).
Namun keberhasilan India justru menyoroti kegagalan kolektif Asia Selatan. Sri Lanka, Bangladesh, dan Pakistan—yang tak punya pengaruh diplomatik sekuat India—terpaksa menerima kenyataan pahit: kapal-kapal mereka tetap tertahan, sementara cadangan energi terus menipis.
Ini pelajaran berharga bagi kawasan. Ketahanan energi tidak bisa dibangun sendiri oleh masing-masing negara. Diperlukan solidaritas dan mekanisme kolektif, karena ketika krisis melanda, negara kecil seperti Sri Lanka akan selalu menjadi yang pertama tumbang.





