Bahaya Perang Suci ala Hegseth

Penulis: Yanuardi Syukur (Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate)

Retorika Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam konflik Iran saat ini menandai sebuah pergeseran radikal dari cara Amerika Serikat membingkai perangnya.

Jika dulu narasi yang dibangun adalah tentang pembebasan, demokrasi, dan tujuan mulia, misalnya “Enduring Freedom” (kebebasan abadi), Hegseth dengan lantang menggantinya dengan “pembalasan,” “kemarahan,” dan “efisiensi brutal.” Nama operasi “Epic Fury” yang ia setujui, seperti dilaporkan The New York Times, adalah manifestasi sempurna dari perubahan paradigma ini.

Di balik retorika keras yang mengatasnamakan kekuatan dan keyakinan agama itu, tersembunyi bahaya besar yang luput dari perhatian publik. Dalam hal ini, Amerika sedang memasuki medan perang yang dibingkai sebagai pertempuran teologis, lengkap dengan segala konsekuensi mengerikannya.

Kita dapat menganalisis bahanya dalam tiga hal sebagai berikut.

Pertama, penggabungan agama dan kekuasaan militer menciptakan legitimasi atas kekerasan tanpa batas.

Ketika Hegseth mengutip Mazmur 144: “Tuhan yang melatih tanganku untuk berperang,” ia tidak sekadar mencari penghiburan spiritual. Ia tengah melakukan sakralisasi kekerasan negara. Tato Salib Yerusalem di dadanya—simbol yang digunakan tentara Perang Salib—bukan sekadar ornamen pribadi, melainkan pernyataan ideologis tentang siapa dirinya dan bagaimana ia memandang perang.

Dalam pidato di National Prayer Breakfast Februari lalu, ia dengan lantang menyatakan bahwa “Amerika didirikan sebagai bangsa Kristen” dan bahwa para pejabat publik memiliki “tugas suci untuk memuliakan Dia.” Padahal, Amerika saat ini mengembangkan ‘religious freedom’ dimana berbagai agama dapat tumbuh dan hidup berkoeksistensi.

Ali Velshi dan Amel Ahmed di NBC News (9/3/2026) mengkhawatirkan terkait pembingkaian agama dalam perang modern yang seringkali menjadi lisensi untuk menangguhkan pertimbangan etis dan hukum humaniter internasional. Jika kekerasan dijalankan atas nama Tuhan, maka tidak ada ruang untuk kompromi, negosiasi, atau belas kasihan. Musuh tidak lagi dipandang sebagai lawan politik, melainkan “kaum biadab” yang harus dimusnahkan.

Kedua, doktrin “perang suci” ini telah merembes hingga ke garis depan, menciptakan krisis kepercayaan di kalangan prajurit.

Military Religious Freedom Foundation (MRFF) melaporkan telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari personel militer di lebih dari 50 instalasi, mencakup semua cabang angkatan bersenjata. Para prajurit melaporkan bahwa komandan mereka menggunakan nubuat Kristen untuk membenarkan perang dengan Iran.

The Guardian mengutip salah satu pengaduan di mana seorang komandan memberi tahu para perwiranya bahwa perang ini “semua bagian dari rencana ilahi Tuhan” dan bahwa Trump “diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran guna menyebabkan Armagedon dan menandai kembalinya Dia ke Bumi.”

Jos Joseph, veteran Marinir yang bertugas di Irak, dalam tulisannya di The Hill (11/3/2026) mengingatkan pengalamannya sendiri, yakni ketika tidak ada lagi alasan rasional untuk berperang, prajurit mencari pembenaran lain. Namun ia memperingatkan bahaya dari logika ini. “Ketika konflik dibingkai sebagai takdir agama, pengekangan dan hukum perang menghilang. Diplomasi menjadi tindakan dosa. Kekerasan menjadi benar. Tentara yang mati menjadi kemartiran,” tulis Joseph.

Ketiga, aliansi politik antara Trump dan kaum nasionalis Kristen menciptakan kondisi bagi perang abadi tanpa tujuan jelas.

Senator Lindsey Graham dari Carolina Selatan secara terbuka menyebut konflik ini sebagai “perang agama” yang akan menentukan jalannya Timur Tengah selama 1.000 tahun. Sementara itu, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, seorang mantan pendeta Baptis, dengan enteng mengatakan bahwa tidak masalah jika Israel menguasai seluruh wilayah dari Sungai Nil hingga Eufrat—sebuah wilayah yang mencakup sebagian besar Timur Tengah modern.

Huckabee, seperti dicatat Velshi dan Ahmed (2026), membingkai politik Timur Tengah dalam istilah teologis yang eksplisit, merujuk pada Perjanjian Lama untuk membenarkan ekspansi teritorial. George W. Bush dulu menarik kembali ucapannya tentang “Perang Salib” karena menyadari bahayanya membingkai perang melawan teror sebagai perang melawan Islam. Namun pemerintahan Trump saat ini, seperti ditulis Joseph, tampaknya telah meninggalkan kehati-hatian itu sepenuhnya.

Pada akhirnya, yang ditawarkan Hegseth dan sekutunya bukanlah strategi kemenangan, melainkan resep untuk kekerasan tanpa akhir. Dengan membungkus agresi militer dalam jubah kesalehan dan nubuat, mereka tengah membawa Amerika ke dalam pusaran konflik yang tidak hanya menghancurkan Iran, tetapi juga jiwa para prajuritnya sendiri, konstitusi yang mereka sumpahi untuk bela, dan kredibilitas moral bangsanya di mata dunia.