Operasi Epic Fury dan Meningkatnya Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Penulis: Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Universitas Khairun)
Sejak diluncurkan pada 28 Februari 2026, Operasi Epic Fury AS terhadap Iran telah memasuki hari kesembilan dengan perkembangan yang semakin kompleks. Apa yang pada awalnya dipresentasikan sebagai ‘operasi militer terbatas’ untuk menghancurkan kemampuan rudal dan angkatan laut Iran, kini telah bertransformasi menjadi perang regional dengan dampak yang menjangkau jauh melampaui perbatasan Iran.
Menteri Perang AS, Pete Hegseth, dalam konferensi pers di Pentagon menyatakan, “Amerika menang secara telak, menghancurkan, dan tanpa ampun.” Ia menegaskan, “We are just getting started,” yang berarti perang ini akan berlangsung panjang. Merujuk liputan Matthew Olay di laman U.S. Department of War (war.gov, 4/3/2026), misi bersama AS dan Israel di Iran mencakup tiga tujuan utama: melumpuhkan sistem rudal balistik Iran, menghancurkan angkatan laut Iran, dan memastikan Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir.
Perluasan Target dan Dampak Lingkungan
Eskalasi terbaru menunjukkan perluasan target yang signifikan. Sebagaimana dilaporkan CNN pada 8 Maret 2026, serangan Israel terhadap fasilitas penyimpanan minyak di Tehran tidak hanya menimbulkan kobaran api, tetapi juga menghasilkan fenomena hujan hitam bercampur minyak yang mengguyur ibu kota Iran. Fred Pleitgen, koresponden CNN di Tehran, melaporkan bahwa air hujan yang turun “benar-benar hitam, tampaknya jenuh dengan minyak.” Hampir sepuluh juta penduduk Tehran kini menghadapi polusi lingkungan yang berpotensi membahayakan kesehatan jangka panjang. Militer Israel mengonfirmasi serangan ini sebagai langkah memperdalam kerusakan infrastruktur militer Iran.
Di sisi lain, serangan balasan Iran berlanjut secara sistematis. Setelah instalasi desalinasi air di Bahrain menjadi target beberapa hari lalu—sebagaimana diberitakan Al Jazeera pada 8 Maret 2026—kini Kuwait melaporkan gedung pemerintahan dan depo bahan bakar di bandara internasionalnya terkena serangan. Uni Emirat Arab juga mengonfirmasi ancaman rudal terhadap sistem pertahanan udaranya. Pola ini menunjukkan Iran memperluas target ke infrastruktur sipil dan ekonomi negara-negara Teluk yang dianggap mendukung operasi AS dan Israel.
Dinamika Politik dan Ketahanan Sosial Iran
Di tengah gempuran militer, horizon politik internal Iran justru menunjukkan dinamika menarik. Laporan Al Jazeera mengutip Ayatollah Mohammad-Mahdi Mirbagheri, anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran, yang mengisyaratkan bahwa “upaya besar untuk menentukan kepemimpinan” telah dilakukan dan “pendapat bulat dan tegas” telah disepakati. Sementara itu, CNN mencatat munculnya pernyataan saling bertentangan dari pejabat tinggi Iran, mengindikasikan potensi perbedaan pendapat di tubuh kepemimpinan.
Namun solidaritas masyarakat Iran tetap terjaga. Foto-foto yang dipublikasikan Anadolu Agency via Al Jazeera menunjukkan warga Iran mengantre mendonorkan darah untuk korban serangan di Tehran. Di tengah pemadaman internet total selama lebih dari seminggu, laporan CNN menunjukkan warga menciptakan jaringan komunikasi alternatif secara mandiri. Hal ini menunjukkan ketahanan sosial yang tidak mudah dipatahkan.
Pernyataan Ali Larijani, pejabat keamanan tertinggi Iran, yang dikutip CNN, mengancam akan membalas Presiden Trump secara langsung bahwa “Iran tidak akan membiarkan Trump pergi.” Respons Trump yang menyatakan “tidak peduli sama sekali” menunjukkan kedua belah pihak telah mengambil posisi yang sulit menemukan jalan mundur.
Dampak Global dan Domestik Amerika
Perang ini tidak lagi menjadi konflik regional semata, at least semua negara memperhatikan itu. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani telah memperingatkan Trump tentang “dampak berbahaya” eskalasi ini bagi dunia. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan agar konflik segera diakhiri dengan memperingatkan “penyebaran api perang.” Ini menunjukkan kekhawatiran global yang semakin nyata.
Respons diam-diam Korea Utara juga patut dicermati. Analis CNN Will Ripley mengamati bahwa media resmi Pyongyang mengutuk perang tetapi sama sekali tidak melaporkan kematian Ayatollah Khamenei. Chad O’Carroll, CEO Korea Risk Group, menilai ini sebagai keputusan sadar rezim Kim Jong Un untuk tidak mempublikasikan narasi tentang tewasnya seorang pemimpin tertinggi.
Di dalam negeri AS, perang mulai terasa di tingkat masyarakat. Rafael Romo, koresponden CNN, melaporkan kekhawatiran warga Atlanta tentang kenaikan harga bahan bakar. Tracy Scott, seorang guru yang juga sopir Uber, mengungkapkan bahwa keputusan perang dibuat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kelas menengah dan bawah.
Operasi Epic Fury telah memasuki fase di mana parameter awal operasi—menghancurkan kemampuan militer Iran—telah dilampaui oleh realitas yang jauh lebih kompleks. Serangan terhadap infrastruktur energi dan instalasi sipil, dampak lingkungan yang meluas, serta keterlibatan tidak langsung negara-negara Teluk, menunjukkan konflik ini telah menjadi perang regional penuh.
Klaim kemenangan Washington mungkin masih relevan secara taktis, tetapi secara strategis muncul pertanyaan mendasar: apa tujuan akhir dan bagaimana konflik ini akan berakhir? Seruan gencatan senjata dari berbagai pihak semakin keras, namun retorika di kedua sisi justru semakin meninggi. Seruan dan diplomasi damai haruslah terus disuarakan, tak terkecuali dari Indonesia, agar konflik di kawasan tidak menyebar ke kawasan lainnya di dunia.





