Resiliensi Peradaban di Bawah Bayang-Bayang Rudal
Penulis: Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Universitas Khairun)
Sepekan setelah serangan besar-besaran AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, laporan militer mencatat pencapaian spektakuler: Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas, ribuan target hancur, dan puluhan kapal militer Iran tenggelam. Mike Froman, Presiden Council on Foreign Relations, dalam tulisannya “What’s Next for the War in Iran?” (6/3/2026) menyebut tujuan militer AS “dapat dicapai.” Namun pertanyaan mendasarnya bukanlah apakah militer AS menang, melainkan: apa arti kemenangan dalam perang melawan peradaban berusia 6.000 tahun?
Serangan ini mengulangi kesalahan epistemik klasik kekuatan kolonial: menyamakan rezim dengan peradaban. Ketika pejabat Pentagon menyatakan targetnya adalah “menghancurkan kemampuan Republik Islam memproyeksikan kekuatan,” mereka menyerang infrastruktur kekuasaan, bukan bangsa Iran. Ranjan Solomon (2026) mencatat bahwa resiliensi Iran justru terletak pada kemampuan membedakan antara rezim berkuasa dan esensi kebudayaan yang bertahan ribuan tahun.
Data pekan pertama membuktikan hal ini. Meski Khamenei tewas dan komando militer lumpuh, Iran melancarkan serangan balasan ke sebelas negara sekaligus. Ini bukan sekadar militansi, melainkan manifestasi “resistive resilience”, yakni kemampuan mengorganisir diri spontan saat struktur formal runtuh. Iran merespons tidak seperti setelah serangan-serangan sebelumnya; mereka membalas dengan kekuatan penuh, menunjukkan bahwa negara-bangsa ini masih memiliki kapasitas kolektif bertindak.
Froman menyoroti ketidakpastian suksesi di Iran dengan empat skenario: suksesi ayatullah lain, kebangkitan IRGC, fragmentasi etnis, atau kembalinya Reza Pahlavi. Analisis ini kelihatannya masih terjebak dalam kerangka institusional sempit. Pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana masyarakat Iran memaknai kematian pemimpin dalam narasi panjang kesyahidan?
Tradisi Syiah memiliki mekanisme kultural matang untuk memproses trauma kolektif. Imam Husein gugur di Karbala bukan sebagai kekalahan, melainkan simbol perlawanan abadi. Kematian Khamenei dalam serangan asing akan segera dibingkai ulang dalam narasi yang sama. Masa berkabung 40 hari bukan sekadar ritual, melainkan mekanisme mentransformasi kekalahan militer menjadi kemenangan moral. Rudal dapat menghancurkan gedung, tetapi tidak dapat membunuh memori kolektif.
Data pekan pertama menunjukkan serangan justru memicu solidaritas baru. Protes domestik Januari 2026 yang menewaskan hingga 16.500 orang tiba-tiba meredup, digantikan patriotisme menghadapi agresi eksternal. Fenomena “rally around the flag” ini adalah pola berulang dalam sejarah Iran: tekanan eksternal justru memperkuat kohesi internal. Intelijen AS keliru mengira protes domestik akan memudahkan invasi—mereka gagal memahami dialektika antara resistensi internal dan eksternal dalam budaya politik Iran.
Soal fragmentasi etnis, Froman meyakini keragaman Iran—Persia, Azerbaijan, Kurdi, Lurs, Arab, Baluch—bisa meledak menjadi perang saudara. David Sneath (2016) mengkritik konsep “suku” dalam antropologi sebagai konstruksi kolonial yang dilembagakan melalui administrasi, bukan realitas primordial statis.
Bukti historis membantah skenario fragmentasi. Dalam Perang Iran-Irak (1980-1988), Saddam Hussein berharap etnis Arab di Khuzestan memberontak, tetapi mereka justru membela Iran. Dalam krisis saat ini, serangan Iran ke Azerbaijan justru memicu solidaritas lintas-etnis di dalam Iran, sementara diaspora Kurdi dan Baluch di luar negeri menunjukkan dukungan terbatas pada serangan AS. Identitas nasional Iran yang dibangun ribuan tahun ternyata jauh lebih kuat daripada politik identitas sempit yang diharapkan perencana geopolitik Barat.
Dimensi ekonomi mikro juga luput dari analisis Froman. Ketika sanksi menghancurkan nilai rial dan inflasi mencapai 70% pada 2025, bagaimana masyarakat bertahan? Para antropolog ekonomi menyebutnya “subsistence resilience”, yaitu jaringan informal keluarga dan tetangga menjadi penyangga saat negara gagal.
Meski Iran menutup Selat Hormuz dan lalu lintas tanker minyak turun 90%, ekonomi informal justru berkembang. Perdagangan barter, pasar gelap, solidaritas komunal menjadi mekanisme bertahan hidup yang tak terdeteksi statistik makro. Inilah mengapa sanksi “maksimum” gagal: mereka menekan negara, tetapi tak mampu menghancurkan masyarakat. Pertanyaan Froman tentang masa depan kemakmuran rakyat Iran tak bisa dijawab tanpa memahami bagaimana mereka belajar bertahan selama empat puluh tahun sanksi.
Menteri Pertahanan AS ke-26 (2017–2019) Jim Mattis pernah berkata: “Tidak ada perang yang berakhir sampai musuh mengatakan perang itu berakhir.” Dalam konteks Iran, “musuh” bukan hanya negara, tetapi peradaban. Dan peradaban tidak menyerah—ia beradaptasi, bertransformasi, dan bangkit kembali dalam bentuk berbeda.
Serangan 28 Februari 2026 mungkin menewaskan Pemimpin Tertinggi, menghancurkan infrastruktur militer, dan melumpuhkan proyeksi kekuatan Iran. Namun pertanyaan relevannya adalah: apakah serangan ini melumpuhkan kemampuan peradaban Iran mereproduksi dirinya sendiri? Berdasarkan bukti historis dan antropologis, jawabannya tidak. Kematian Khamenei akan dibingkai ulang sebagai syahadah (syahid—suatu predikat yang sangat mulia) yang memperkuat narasi perlawanan. Fragmentasi etnis yang diharapkan tidak terjadi. Ekonomi informal terus berdenyut. Masyarakat Iran, yang bertahan 6.000 tahun, sekali lagi menunjukkan bahwa mereka adalah subjek sejarah, bukan objek pasif yang menunggu pembebasan dari luar.
Kemudian, pertanyaan terakhir Froman—apa arti semua ini bagi masa depan kebebasan dan kemakmuran rakyat Iran—hanya bisa dijawab oleh rakyat Iran sendiri. Bukan oleh rudal Tomahawk, bukan drone MQ-9, dan bukan analisis geopolitik dari ruang konferensi Washington. Karena pada akhirnya sejarah selalu berada di tangan mereka yang hidup, bekerja, dan berjuang dalam bayang-bayang kekuasaan—bukan mereka yang menjatuhkan bom dari ketinggian 30.000 kaki.





