Pengukuhan Raja Bokeo Mekongga ke-21 Digelar di Kolaka

SULTRAMERDEKA.COM – Prosesi adat Pomborehua atau pengukuhan Raja Bokeo Mekongga ke-21 (XXI) berlangsung khidmat dan penuh kesakralan di kawasan cagar budaya Bende Wuta Mekongga, Desa Bende, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara, Sabtu (14/2/2026).

Acara adat yang dimulai pukul 09.00 WITA tersebut ditandai dengan tabuhan gong (tawa-tawa) sebagai simbol dimulainya prosesi sakral pengukuhan pemimpin baru Kerajaan Mekongga.

Dalam prosesi tersebut, Drs. Ratulangi, M.Pd resmi dikukuhkan sebagai Mberiou YMP Bokeo Mekongga ke-21 (XXI), meneruskan tampuk kepemimpinan kerajaan yang sebelumnya kosong setelah wafatnya Raja Bokeo Mekongga terdahulu, almarhum PYM Drs. H. Bokeo Khaerun Dahlan, MM.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan sumpah raja atau “Sabda Raja” oleh Drs. Ratulangi, M.Pd.

Dalam ikrarnya, ia berkomitmen untuk mempertahankan serta melestarikan adat dan budaya Kerajaan Mekongga sepanjang hayat.

Selain itu, sebagai bagian dari kerajaan besar di Nusantara, ia juga menegaskan dukungan penuh terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Prosesi adat tersebut dihadiri para tokoh adat Mekongga (toono motuo), perangkat adat, tokoh pemuda dan organisasi masyarakat adat Tolaki, anakia Mekongga yang tersebar di wilayah Kolaka Raya dan Konawe Raya, serta unsur keamanan negara dari utusan Danrem 143/Haluoleo dan Kapolsek Wundulako.

Perwakilan keluarga yang hadir dalam prosesi itu menyampaikan bahwa kegiatan adat ini merupakan wujud tanggung jawab bersama seluruh masyarakat di wilayah Mekongga untuk merawat tradisi dan menjaga warisan budaya leluhur di Wonua Mekongga.

“Harapannya, sinergitas antara pelaku budaya generasi muda dan tua serta unsur pemerintah dapat terus beriringan dan saling menguatkan, agar tercipta Wonua Mekongga yang meambo, beradat dan beradab di era modernisasi,” ujarnya.

Setelah prosesi Pomborehua selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan naskah pengukuhan dan sesi dokumentasi di Tugu Kalosara dan Parang Taawu. Acara kemudian ditutup dengan santap siang bersama para tamu undangan.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Raja Bokeo Mekongga ke-21 beserta rombongan menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan prosesi adat terdapat kekurangan maupun pelayanan yang kurang berkenan.(sm-01)