Nama KBM UHO Dipakai Sepihak, BEM Tegaskan Aksi Penolakan Rektor Tak Wakili Mahasiswa

SULTRAMERDEKA.COM – Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menjadi sorotan usai aksi penolakan perpanjangan jabatan Rektor pada 10 Juli 2025 diklaim sebagai suara Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UHO.

Namun, klaim tersebut ditegaskan sebagai sepihak dan tidak mewakili seluruh elemen mahasiswa.

Ketua BEM UHO, Nabil Al Mahmud, menegaskan bahwa aksi tersebut sama sekali tidak melalui forum koordinasi resmi KBM UHO.

Ia mengklaim, sebagian besar peserta yang terlihat dalam video aksi justru bukan mahasiswa aktif UHO.

“Kami tidak mempersoalkan perbedaan pendapat, tapi yang kami tolak adalah manipulasi representasi. Ketika nama KBM UHO dipakai tanpa melibatkan mahasiswa UHO, itu bukan gerakan kolektif, tapi tindakan sepihak,” tegas Nabil.

Ia menilai penggunaan nama KBM UHO tanpa keterlibatan kelembagaan mahasiswa dari berbagai fakultas menyesatkan publik dan merusak marwah organisasi mahasiswa kampus.

Sementara itu, perpanjangan masa jabatan Rektor UHO sendiri telah diatur melalui Keputusan Mendiktisaintek Nomor 197/M/KEP/2025 tertanggal 2 Juli 2025. Keputusan tersebut bersifat administratif dan sah menurut mekanisme negara.

BEM UHO mendorong Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk segera mempercepat pelantikan Rektor definitif.

Menurut Nabil, kepastian kepemimpinan kampus sangat penting agar pelayanan akademik tetap aman, tertib, dan kondusif.

“Proses transisi yang terlalu lama hanya membuka ruang spekulasi dan menimbulkan ketegangan di lingkungan kampus,” ujarnya.

Dengan demikian, BEM UHO menegaskan bahwa aksi yang mengatasnamakan KBM UHO pada 10 Juli lalu tidak memiliki legitimasi moral maupun struktural karena dilakukan tanpa mandat resmi dan partisipasi nyata mahasiswa UHO.(sm-01)