Bola Pinoama dan Jejak Bahasa yang Tak Hilang

SULTRAMERDEKA.COM – Tak banyak sutradara di Sulawesi Tenggara yang mampu menembus bioskop tiga kali dengan tiga film fiksi berbeda. Dalam iklim industri yang serba kering, capaian semacam itu setara dengan membuka jalur kecil di hutan lebat. Satu langkah yang bukan hanya berani, tapi juga menegaskan bahwa sinema dari wilayah ini masih bernapas.

Gala premier film Bola Pinoama pada Jumat malam (17 Oktober 2025) di Hollywood Square Kendari berlangsung hangat. Seorang anggota dewan tampak hadir, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ikut menyaksikan. Beberapa media daring meliput, dan sejumlah influencer memenuhi ruang bioskop. Di Sulawesi Tenggara, pemandangan seperti itu masih langka. Di antara sorak dan lampu yang meredup, kita menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar pemutaran film: kita menyaksikan keyakinan bahwa karya lokal pantas hidup di layar besar.

Sutradara Bola Pinoama, Alan ASJK bukan nama yang muncul sekali lalu menghilang. Ia sudah tiga kali menayangkan film fiksi karyanya di bioskop daerah. Itu catatan penting. Konsistensinya menjadikannya salah satu dari sedikit pembuat film di wilayah ini benar-benar bukan hanya api yang menyala tapi tetap membara.

Namun yang membuat film ini menarik bukan hanya rekam jejaknya, melainkan keberaniannya memilih tema: anak-anak dan bahasa ibu. Dalam arus film lokal yang lebih sering berurusan dengan konflik orang dewasa, Bola Pinoama menoleh ke masa kecil dan mengajukan pertanyaan yang pelan tapi penting: apa yang terjadi jika bahasa kita sendiri mulai hilang dari mulut anak-anak?

Bahasa yang Tak Hilang

Saya punya ketertarikan lama pada bahasa Wolio. Di antara bahasa-bahasa besar di Sulawesi Tenggara, Wolio adalah satu-satunya yang memiliki aksara dan korpus manuskrip yang lengkap, terdokumentasi secara tertulis dan memiliki tradisi aksara local. Wolio menonjol sebagai bahasa yang memiliki aksara Buri Wolio dan korpus manuskrip istana/Islam tradisional yang relatif lebih besar sejak abad ke-16 hingga ke-19 di Kesultanan Buton.

Naskah-naskahnya ditulis di atas daluwang, kulit kayu, atau kertas Eropa, berisi hukum adat, doa, tafsir, hingga silsilah kerajaan. Sebagian manuskrip seperti Kitab Martabat Tujuh kini sudah didigitalisasi oleh British Library melalui Endangered Archives Project. Itu berarti Wolio tidak hanya hidup sebagai bahasa, tapi juga sebagai arsip peradaban.

Bandingkan dengan Muna, Tolaki, dan Moronene yang bertumpu pada tradisi lisan. Bahasa-bahasa itu kuat dalam tutur, tetapi tak punya jejak tulisan historis. Karena itu, pilihan sutradara untuk mengangkat bahasa Wolio ke dalam film adalah langkah penting: ia bukan sekadar bercerita tentang anak-anak, melainkan menghidupkan kembali napas sejarah yang nyaris hilang.

Tentang Anak dan Bunyi

Film ini seharusnya menjadi film yang bernafas, karena bahasanya sendiri lahir dari udara, dari getar dan suara. Tapi dalam Bola Pinoama, napas itu terasa ditahan.

Di dalam kelas, kita mendengar tiga anak berbicara seolah di studio yang steril. Tak ada gema, tak ada desah kipas, tak ada langkah di lantai. Semuanya jernih, tapi mati. Atmosfer adalah nadi film, begitu ia dihapus, penonton kehilangan udara untuk percaya.

Saya menduga, dalam proses penyuntingan audio, ruang film ini dibersihkan terlalu keras. Efek noise reduction menyingkirkan tidak hanya gangguan, tapi juga kehidupan. Bagi telinga biasa, mungkin itu tak mengganggu. Tapi bagi yang mendengarkan dengan teliti, ruang film ini berlubang: seakan setiap kali anak-anak bicara, udara di sekitar mereka disedot keluar dari layar.

Padahal dalam film anak-anak seperti ini, bunyi dunia seharusnya jadi teman bermain: langkah kecil, suara serangga sore, tawa di luar kelas. Semua itu membangun rasa hadir, membuat penonton merasa ada di sana. Ketika atmosfer dihapus, cerita jadi mengambang.

Tentang Peran

Sebagai penonton yang cukup memahami dunia peran, saya juga terganggu oleh satu hal: karakter sang nenek. Di antara tiga karakter anak-anak yang tampil alami dan menyentuh, tokoh nenek terasa tidak hidup. Gesturnya dibuat-buat, dialognya kaku. Padahal dalam struktur cerita, tokoh ini adalah jembatan antara bahasa lama dan dunia anak. Justru karena penting, ketidakalamian itu terasa semakin menonjol.

Namun saya juga melihat kejujuran yang kuat dalam cara film ini bercerita. Tidak ada pretensi besar, hanya sebuah ajakan sederhana: mari berbicara dengan bahasa kita sendiri, sebelum semuanya hilang.

Tentang Industri yang Dilupakan

Saya tahu betul betapa sulitnya membuat film di daerah. Sutradara Bola Pinoama menulis skenario, menyutradarai, bahkan mencari sponsor sendirian. Itu kerja besar yang menunjukkan semangat luar biasa. Tapi di situlah letak masalahnya: film bukan pekerjaan tunggal, melainkan ekosistem.

Film yang baik bukan hanya lahir dari ide cemerlang atau suasana hati yang brilian, tapi juga dari kesadaran industry, berapa tiket yang terjual, berapa penonton yang datang, bagaimana film hidup setelah layar padam. Nafas film tidak berhenti di ruang editing, melainkan di loket bioskop.

Saya menonton gala primernya dan bisa memperkirakan film ini tidak akan menembus sepuluh ribu penonton. Bukan karena filmnya buruk, tapi karena sistem produksinya belum berpijak pada logika industri. Di situ, banyak pembuat film lokal jatuh: bukan karena kurang ide, melainkan karena terlalu memikul beban sendiri.

Empati sebagai Kritik

Saya tidak menulis ini untuk menghakimi. Kritik saya lahir dari empati. Bola Pinoama adalah film yang jujur, sederhana, tapi berniat baik. Ia menatap dunia anak-anak tanpa kepalsuan, mengingatkan bahwa bahasa ibu bisa mati tanpa kita sadari.

Barangkali film ini belum berhasil secara industri, tapi ia berhasil secara nurani: ia mengingatkan kita bahwa sinema bisa tumbuh dari niat kecil, asal disertai kesadaran besar. Dan mungkin, seperti bahasa Wolio yang masih bertahan di antara naskah-naskah tua, film lokal pun akan menemukan caranya sendiri untuk tetap hidup selama ada orang yang percaya, menulis, dan menontonnya dengan empati.

Ketgam: Gala premier Bola Pinoama pada Jumat malamĀ  (17 Oktober 2025) di Hollywood Square Kendari. (Doc. Adhy Rical)

*Penulis: Adhy Rical