Bulan Ramadhan sebagai Madrasah Melatih Kesabaran
SULTRAMERDEKA.COM – Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah akan berakhir dan selanjutnya masuk fase Syawal sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan selama satu bulan.
Momentum tersebut menjadi hikmah besar di tengah umat Islam dengan mengedepankan semangat toleransi.
Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) DPC PDI Perjuangan Kota Kendari, Azis Darise mengatakan makna besar hikmah Ramadhan tahun ini mampu menjaga ukhuwah islamiah dan kebersamaan sesama anak bangsa Indonesia melalui semangat persatuan.
Semangat nasionalisme itu semakin menguatkan jiwa personal dan jati diri seorang muslim melalui implementasi puasa.
Dengan begitu akan menjadi tameng untuk mengontrol emosi yang tinggi dan hawa nafsu dalam keseharian.
“Semangat persatuan dan kebersamaan itu akan menghindari munculnya saling fitnah, berburuk sangka, dan menguatkan silaturahim sesama ummat,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/3/2026).
Azis Darise juga mengatakan satu kesyukuran dapat menunaikan ibadah puasa dan akan melaksanakan hari raya penuh bahagia dan gembira.
“Merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya,” katanya.
Menurutnya, seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan, banyak pelajaran yang dapat petik untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang.
“Ramadhan ibarat sebuah madrasah. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram,” jelasnya.
“Sementara dari aspek sosial, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar,” tambahnya.
Ia menegaskan, bahwa pesan Ramadhan yang bisa dipegang teguh bersama yakni pesan moral yang harus selalu mawas diri terhadap hawa nafsu.(sm-01)





